Vlog SupercoolLife : Ep. 54 Perjalanan Ke Jerman

Vlog baru minggu ini bercerita tentang perjalanan kita ke Jerman bulan Mei tahun 2017 yang lalu. I know, i know, itu kok baru dibuat videonya sekarang :p Hahaha Semoga mulai sekarang bisa konsisten upload satu vlog baru tiap minggu yah.

Jadi ceritanya bulan Mei kemarin, Jenna dan Dea nemenin Papa-nya yang lagi ada kerjaan di Jerman sekitar seminggu. Untuk vlog kali ini ceritanya tentang perjalanan selama 24 jam (pesawat 7+7 dan transit2) bersama bayi cilik yang penuh dengan tantangan dan ujian. Hahaha

Udah gitu kita mesen flight yang jaraknya pendek pas dari Jakarta ke KL sehingga begitu turun pesawat kita harus langsung lari-lari turun imigrasi, pindah dari KLI 2 ke KLIA 1, antri imigrasi lagi, baru deh lanjut pesawat berikutnya. Klo misalkan pesawat yang ke KL ini delay, udah deh angus tiket pesawat kita ke Jerman :v

Oke langsung aja, ini dia vlog terbaru kita minggu ini, episode ke 54, perjalan ke Jerman

Time Zone Play – Summarecon Mall Serpong

Halo para pemirsa sekalian, kali ini kami akan membahas sebuah playground yang berada di sekitaran daerah BSD, lebih tepatnya di daerah Gading Serpong. Playground indoor yang satu ini namanya Time Zone Play yang terletak di Summarecon Mall Serpong di lantai dua.

Time Zone Play ini merupakan salah satu indoor playground favorit kami karena tempatnya cukup besar, bersih, dan lengkap permainannya. Harganya pun terbilang cukup reasonable. Hanya dengan membayar Rp. 90.000/anak, anak-anak bisa main sepuasnya + dapat kaos kaki + pendamping gratis masuk. Kan ada yah Playground yang perpendamping nambah bayarnya. Klo ini kita bahkan pernah satu anak ditemani empat pendamping :p  Tapi untuk pendamping, kaos kaki-nya tidak gratis, harus beli harganya Rp. 10.000 rupiah atau bawa sendiri dari rumah.

Satu hal yang menjadi poin plus lagi dari Time Zone Play ini adalah ada area khusus toddler. Biasa kan klo kakak-kakak yang sudah cukup besar kalau main agak agresif yah, lari sana-sini, seruduk-seruduk, dan masih belum aware terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan adanya area khusus toddler, bayi-bayi bisa bermain dengan lebih aman dan nyaman. Di area toddler pun cukup lengkap kok, ada perosotannya, ada mandi bolanya, ada kuda-kudaan, trampoline dari air, piano yang diinjak-injak, dan lain-lain. Di area kakak-kakak juga cukup maksimal permainannya. Perosotan ada 7 buah kalau gak salah ingat. Ada yang merosot ke tempat mandi bola, ada yang melingkar, ada yang tinggi dan berombak, dan ada yang curam. Jadi gak usah takut gak kebagian perosotan karena ada banyak banget. Arena pretend play nya juga terbilang cukup oke karena ada masak-masakannya, ada bakery, dan lain-lain. Jadi buat anak yang aktif atau yang senang dengan kegiatan sambil duduk terfasilitasi dengan baik di sini.

Fasilitas tambahan di Time Zone Play yang perlu kita ketahui juga adalah tempat ini dilengkapi dengan CCTV di setiap sudutnya (jadi aman lah untuk anak-anak), lalu terdapat loker juga untuk menyimpan tas dan sepatu, dan ada larangan untuk makan minum di arena bermain (boleh di area loker) sehingga tempatnya jadi lebih higienis. Untuk toilet atau nursing room terdapat di beberapa lantai di mall ini. Lalu anak-anak yang masih kecil harus selalu dijaga orang tua karena tidak ada penjanga yang standby di tiap titik (ada petugas yang sesekali merapihkan mainan, tapi mostly standby di counter tiket).

Jadi kesimpulannya, hal yang positif dari Time Zone Play ini adalah jenis perosotan yang sangat beragam dan tempat yang luas sehingga ketika sedang weekend dan ramai pun tetap terasanya nyaman. Kalau negatifnya, hmm… apa yah,, belum kepikiran :p Nanti klo kepikiran ditambahin lagi deh.

Summary

  • Lokasi : Summarecon Mall Serpong, lantai  2
  • Indoor’/Outdoor : Indoor
  • Harga Tiket Anak : Rp. 90.000,00
  • Harga Tiket Pendamping : free (unlimited)
  • Perlu Kaus Kaki : Iya
  • Time Limit : Unlimited
  • Area Khusus Toddler : Ada
  • Toilet Nursing Room : Toilet Mall, di luar area bermain
  • Loker : Ada
  • Boleh Makan/Minum : Hanya di area loker
  • Petugas berjaga di area bermain : Tidak
  • Variasi Permain : Sangat Banyak
  • Luas Playground : Cukup Besar

SupercoolRating : 4/5

Pengalaman Foto Keluarga Dengan Skybox

Kali ini saya ingin sharing pengalaman saya melakukan sesi foto keluarga. Dalam rangka anniversary ke-10 Saya dengan Dea, kami berencana membuat foto keluarga. Namun konsep yang kami inginkan bukan yang di dalam studio foto, akan tetapi outdoor. Dan tempatnya pun kami pilih di Singapore karena dulu saya dan Dea pernah anniversary di sana. Hitung-hitung sekalian ngajak Jenna jalan keluar negeri.

Untuk menciptakan foto sesuai yang kami inginkan, rasanya tidak mungkin klo harus foto sendiri menggunakan tripod seperti yang selama ini kami lakukan. Saya ingin konsepnya natural dan santai sehingga butuh orang lain untuk bisa menangkap momen tersebut. Kebetulan ada teman saya yang seorang fotografer profesional. Dia punya usaha studio foto namanya Skybox. Portofolionya Skybox gak main-main, clientnya itu artis papan atas seperti Andine, Isyana, Raisa, dan banyak lainnya. Untuk itulah saya coba percayakan kepada Skybox untuk menciptakan foto keluarga yang kami inginkan.

baca juga : [Supercoolday] Tentang Foto Prewed

Dari proses sebelum hari H, Agra yang merupakan pemilik dari Skybox sangat membantu persiapan foto. Agra mencarikan spot-spot foto menarik di Singapore, membuatkan jadwal itinerary fotonya, hingga membantu kami menyiapkan outfit yang tepat sesuai dengan lokasi fotonya. Akhirnya dengan mempertimbangkan sesi foto bersama anak-anak, Agra merekomendasikan lokasi yang di sana Jenna bisa main-main. Terpilihlah Henderson Waves Bridge untuk sesi foto sore dan Garden By the Bay untuk sesi malam.

16105621_10154986655487700_1552574332635559735_n

Hari H sendiri pun jadwal sangat fleksibel. Berhubung Jenna lagi agak demam, kami jadinya mundur sejam biar Jenna bisa istirahat. Dari Skybox pun juga no problem dan mengerti klo foto sama anak kecil emang jadwal harus fleksibel. Kami lalu ketemuan dengan Agra dan Dian di Orchard lalu langsung menuju Henderson Wave Bridge. Dari tempat kami diturunkan oleh Uber menuju lokasi jembatannya tidak begitu jauh. Sepanjang perjalanan ke atas, Agra dan Dian sudah mulai mengambil beberapa gambar di area hiking yang hijau. Kamera yang digunakan juga bermacam-macam, yang saya lihat ada Ricoh GR II, ada Fuji X100T, ada juga Nikon (gak tahu apa). Beberapa kali terlihat kamera yang digunakan berganti-ganti tergantung kondisi dan situasi.

Ketika sesi foto utama di Henderson Wave Bridge, proses foto menjadi sangat seru. Sesuai dengan yang kami harapkan, foto sesi ini tidak kaku dan fun. Agra dan Dian sangat pandai menangkap momen, mengarahkan kami (terutama Jenna) agar melakukan aktivitas dengan santai, dan tentu saja mengabadikan berbagai momen selama di lokasi. Bagi Jenna, sesi foto ini sudah mirip kayak sesi dia main-main saja. Dia bisa jalan kesana-sini, bisa ketawa-ketawa, pokoknya seru banget.

baca juga : Jasa Fotografer Pribadi Professional

Setelah dari Henderson Wave Bridge, kami langsung menuju ke Garden By The Bay. Jenna sempet tidur dulu biar gak terlalu capek, lalu kami bertiga ganti kostum. Sama seperti sesi pertama, sesi kedua ini juga sangat fun. Bahkan karena tempatnya sangat luas, Agra dan Dian sempat survey keliling lokasi dulu untuk liat berbagai spot yang enak buat foto pas Jenna tidur. Alhasil kami keliling Garden By The Bay sambil main-main dan tentunya berbagai momen ditangkap dengan baik. Tapi memang karena kondisi Jenna sedang tidak fit, Jenna banyak di stroller dan digendong. Untungnya pun walaupun di stroller, hasil fotonya juga tetep oke 🙂

Akhirnya malam tiba, sesi foto terakhir kami mencoba menangkap lampu-lampu di Marina Bay Sand dan lampu di Garden By The Bay yang ikonik. Berbagai teknik pencahayaan digunakan demi mendapatkan foto yang oke. Lalu selesailah proses foto yang kurang lebih berlangsung sekitar 5-6 jam.

16003173_10154986657042700_2318999271463419595_n

Bagi kami, pengalaman foto bersama Skybox ini sangat berkesan. Foto sesi bersama toddler bukanlah hal yang mudah tapi Agra dan Dian membuat proses foto yang lama ini menjadi sangat santai. Mereka mampu menyesuaikan dengan mood dan pace-nya Jenna, kalau keliatan sudah agak capek, bisa langsung mengganti konsep foto yang kira-kira tetap cantik. Experience selama foto sesi ini pun menjadi menyenangkan, ya kayak main-main aja jadinya. Dan yang paling saya suka adalah hasil dari fotonya yang natural dan penuh cerita. Bukan momen adegan yang direkayasa, tapi merupakan jepretan sebuah memory yang tiap kali kita lihat foto itu, kita tahu cerita dibaliknya. Contohnya ada satu foto yang saya dan dea nyuruh Jenna ngeliat ke kamera (pakai nunjuk-nunjuk ke arah kamera) tapi Jenna asyik lihat pohon yang ada lampu-lampunya di samping. Terus Agra nyuruh kita untuk ikut nunjuk pohon aja, eh pas difoto Jenna malah lihat kamera padahal Papa Mamanya udah nunjuk samping :’) Banyak deh cerita-cerita seru yang tertangkap foto yang membuat kami bisa bernostalgia dengan kisah di balik itu.

Singkat cerita, saya sangat merekomendasikan Skybox buat siapapun yang mau foto sesi entah itu foto prewed, foto maternity, foto newborn, atau sesi foto lainnya. Setelah saya upload foto-foto tersebut di instagram pun orang-orang langsung pada nanyain Skybox karena hasilnya emang mumpuni. Kalau mau lihat bisa cek instagram saya dengan hashtag #supercool10th (tapi belum semua saya upload di IG), atau bisa cek Instagram nya Skybox, Agra, dan Dian untuk liat karya mereka dan klo mau nanya2 pricelistnya.

Suka Duka dan Tips BLW

Di Instagram, saya sering sekali share sesi klo Jenna lagi makan. Dan memang kebahagian orang tua adalah ketika ngeliat anaknya makan dengan lahap. Paling stres tentu ketika anak males makan atau pilih-pilih makan. Itu mengapa untuk urusan mendidik anak makan, saya bener-bener belajar dan memastikan menggunakan metode yang terbaik untuk anak.

Setelah mencari referensi dan diskusi dengan teman-teman yang sudah punya anak (dan anaknya makannya hebat), saya dan istri memutuskan untuk menggunakan metode yang namanya Baby Lead Weaning. Saya udah pernah bahas sekilas sih tentang BLW itu di blog tapi waktu itu belum menjalaninya secara langsung. Setelah hampir 5 bulan menjalani BLW, saya mau share pengalaman menggunakan BLW dari Jenna usia 6 bulan sampai sekarang.

Pertama saya ingin tentang sukanya dulu yah menggunakan metode BLW. Yang pertama adalah anak menikmati makan. Mindset makan itu menyenangkan sangat ditekankan dalam konsep BLW. Jadi anak akan makan ketika lapar, akan mengambil makanannya sendiri, akan menggigit makanan sesuai dengan kapasitasnya dia, intinya suasana makan itu fun sehingga lama-lama anak akan menanti dan mencari sesi makan. Gak pakai paksa-paksaan dan gak pakai berantem-beranteman karena momen makan terasa natural.

Yang kedua enaknya adalah praktis. Metode ini membuat anak bisa makan apapun (tentu bertahap yah) tanpa perlu preparation yang ribet. Dengan BLW, kita cukup menyiapkan makanan seukuran jari aja abis itu anak bisa makan sendiri. Anak makan, kita juga bisa sambil makan sendiri jadi tenang. Apalagi kalau travelling, gak perlu bawa alat tempur untuk makanannya Jenna. Kalau di restoran gitu, tinggal cari aja makanan apa yang kira-kira bisa Jenna makan.

Lalu kalau dukanya, yang pertama dan yang paling berasa adalah proses belajar BLW harus sabar. Ketika anak masih belum ngerti konsep makan, belum ngerti konsep lapar, itu adalah momen yang harus kita terus support. Kadang anak cuma icip-icip, cuma lempar-lempar makanan, dan tidak ada yang masuk mulut. Tapi satu tahun pertama, anak itu kebutuhan utama nutrisinya ada di ASI, jadi gak perlu terlalu khawatir. Yang penting ketika beres ASI, si anak udah bisa makan sendiri dengan mindset yang benar.

Dan duka berikutnya adalah sesi beres-beresnya hahahaha. Emang sih prepare-nya gak perlu pakai blender, gak perlu disaring, dan lain-lain. Tapi pas abis makan, si anak bakal super berantakan banget (tapi tergantung makanannya juga sih). Kalau lagi makan yang sangat heboh kayak buah naga, wah itu siap-siap aja bersihin anaknya bakal kayak mandi deh. Hahaha Terus kalau makanannya lagi yang kecil-kecil kayak nasi gitu, wah butiran nasi bertebaran dimana-mana. Itu mengapa saya ngakalinnya di bawah highchairnya Jenna, saya kasih alas koran klo lagi mau makan yang berantakan. Hehehe

baca juga : [Supercoolkids] Mulai Mengenalkan Metode Makan Baby Led Weaning

Terakhir tips-tips untuk BLW yah. Tips terpenting adalah percaya pada anak. Percaya kalau anak kita itu secara biologi dan alamiah ngerti konsep makan. Dengan membiarkan anak yang mengambil sendiri makanannya, memilih sendiri makanannya, menentukan sendiri jika sudah ingin berhenti, maka anak akan jadi percaya diri dan semakin mahir BLW.

Tips berikutnya adalah jangan ngemil di sela-sela jam makan, terutama antara makan pagi dan makan siang. Hal ini untuk melatih anak tentang konsep lapar dan mengatur jam biologis kalau ada sarapan, makan pagi, cemilan sore, dan makan malam. Karena ketika new born, waktu makan dia kan masih dua jam skali nyusu. Kalo ini pelan-pelan kita ubah timing makannya menjadi sesuai jam biologis normal.

Tips selanjutnya adalah buat suasana makan senatural mungkin. Pas anak makan, ya kita sekeluarga juga makan. Biarkan aja anak melihat orang tuanya makan, nanti dia pelan-pelan niru kok. Kalau kita sibuk duduk di depan dia mastiin dia makan, malah lebih lambat belajarnya. Dengan terbiasa seperti ini, jadi pas saya jagain Jenna, saya bisa tetap makan siang sambil Jenna makan siang sendiri. Oh ya, ini juga konsep natural jangan taro mainan di meja makan yah atau jangan sambil nonton TV. Biarkan anak fokus sama moment makan aja.

Lalu terkait teknis, sebaiknya gunakan highchair/babychair sehingga dia bisa duduk sendiri. Untuk masakan2nya, bisa beli cookbook untuk ide kira-kira dibuatin apa. Klo Jenna mostly makanannya dikukus, kadang Dea bikinin yang agak perlu diproses juga sih. Biasanya Jenna makan karbonya nasi, ubi, kentang. Klo protein ikan kayak salmon, dory, gitu Jenna suka. Sayur kesukaan Jenna udah jelas brokoli, sama labu siam dia juga suka. Buah rasanya hampir semua suka kecuali pisang, gak tahu kenapa hahaha. Dan kalau lagi traveling, kita bisa siapkan makanan2 yg gak terlalu berantakan kalau dimakan sendiri sama anak supaya gak ribet.

Itu sih Suka duka dan beberapa tips BLW. Sebenernya banyak sih tips lainnya, tapi mungkin itu tiap anak beda-beda ya tergantung karakter dan tipikal anaknya sendiri. Kalau ada pertanyaan lagi, silahkan yah 🙂 Oh ya, di bawah ini beberapa video vlog yang saya sempet bahas sedikit tentang BLW yah.

Update Channel Youtube Vlog Supercoollife

Semenjak kelahiran Jenna, saya mulai melakukan vlogging dengan tema keluarga. Sebenernya saya ingin membuat konsep daily vlog di awal. Seperti yang dulu pernah saya share, saya terinspirasi dengan Youtube Channel Daily Bumps dan It’s Judy Time dimana mereka bisa membuat daily vlog secara konsisten dan menarik. Saya inget banget dulu waktu jaman-jamannya Dea hamil, Daily Bumps itu bener-bener jadi channel favorit kita berdua karena usia Jenna dan anak mereka sama (selilish seminggu dua minggu lah). Jadi momen-momen kehamilan hingga saat ini kita bisa belajar dan benchmark juga dari channel tersebut.

Tapi saya mengalami kendala yang sangat berat untuk bisa rutin upload video tiap hari yakni saya bukan full time youtuber. Si channel yang bisa upload daily video itu udah full time dan professional youtuber lah. Ada sih beberapa yang punya pekerjaan lain, tapi justru pekerjaan real life itu sampingan :p Nah berhubung saya nge-vlog ini sampingan, jadi masih sulit lah untuk bisa daily. Wong daily blogging aja udah sulit, apalagi ditambah daily vlogging. Ini bener-bener klo bisa ada teknologi untuk ngeduplikasi diri atau menghentikan waktu, bener-bener bermanfaat. Untuk bisa menjalankan berbagai aktivitas yang saya jalani hari ini, time managementnya harus sangat presisi. Disiplin adalah kunci dan musuh terbesarnya kan malas. Malas ini yang sangat harus bisa kita berantas.

baca juga : Introducing new segment and Vlog, the [Supercoollife]

Oke back to Supercoollife, jadi ada dua kondisi saat ini. Pertama, timelinenya udah ketinggalan cukup jauh dari terakhir saya upload. Sekarang ini yang terbaru itu pas ke Bali, dan itu di bulan Juni. Sekarang udah akhir Agustus, jadi ada sekitar dua bulan yang harus dikejar. Bisa sih, karena saya gak ambil footage tiap hari, jadi pasti akan tiba saatnya kekejer kalau saya konsisten.

Nah kondisi kedua adalah konsistensi. Saat ini di tangan saya ada cukup banyak hal yang ingin (dan harus) saya kerjakan. Ini banyak pipeline di Arsanesia dan Arsa Kids yang harus bisa segera take off, jadi trainer di Dicoding Academy, melakukan activity untuk Intel Innovator, menulis review game di Daily Social, menulis blog pribadi, dan update video di channel youtube (ada dua pula, Supercoollife sama Ardisaz Tutorial). Jadi memang akan ada yang saya utamakan priroitasnya dibandingkan yang lain. Untuk Supercoollife ini, sementara saya baru bisa sanggung konsisten seminggu sekali. Defaultnya tiap Senin saya akan upload video baru.

baca juga : Mencari Kamera Untuk Vlog

Paling itu aja sih update dari saya terkait channel Youtube Supercoollife. Sebenernya ada bayak juga ide menarik lainnya yang bisa diimplementasi, tapi ya itu, ide terbentur dengan kemampuan :p Jadi semoga seminggu sekali ini bisa tercapai yah 🙂 Honestly, bikin vlog ini awalnya hanya untuk dokumentasi pribadi dan obat kangen buat keluarga besar yang gak bisa ketemu Jenna tiap hari. Tapi saya cukup kaget sih pas ternyata audiencenya makin banyak dan menagih vlognya untuk terus diupdate :p hehehe sekarang seminggu sekali dulu ya.

Ini vlog terbaru minggu ini yah klo ada yang belum nonton 🙂 jangan lupa bantu like dan klik subscribe juga 😀

Bermain di Taman Scientia Square Park

Hari Sabtu yang lalu saya dan istri membawa Jenna bermain lagi di Kidspace. Sejujurnya kami perlu lebih sering mengajak Jenna bermain ke public space seperti ini untuk melatih Jenna bersosialisasi. Khawatir karena keseringan di rumah aja, jadi takut kalau ketemu orang. Sekarang aja Jenna masih pilih-pilih banget siapa aja yang boleh gendong dia. Kalau yang gendong bukan orang yang sering ketemu Jenna, pasti langsung gak mau.

Pas hari Sabtu di Kidspace, kebetulan lagi ada beberapa anak juga di sana. Ada juga pendamping anak-anak tersebut yang bisa orang tuanya bisa baby sitternya. Melihat suasana agak ramai, Jenna alih-alih jadi takut atau diem (seperti yang kami khawatirkan), ternyata malah cenderung aktif dan berinisiatif menghampiri. Ini tentu membuat kami cukup kaget bahwa Jenna ini anaknya senang bersosialisasi, dia hanya pilih2 aja kalau masalah gendong-menggendong.

baca juga : [Supercoolkids] Bermain Di Kidspace Pondok Indah

Akhirnya, hari Minggu sore kami putuskan untuk membawa Jenna bermain lagi di luar. Pilihan kami kali ini adalah taman di daerah Sumarecon Serpong yakni Scientia Square Park. Lokasi taman ini persis di belakang Sumarecon Digital Center (dekat Universitas Multimedia Nusantara). Saya dan istri sudah beberapa kali ke SDC dan gak pernah ngeh klo ada taman sebesar dan sebagus ini. Hahaha

Di dalam Scientia Square Park ini menurut saya fasilitasnya sangat baik. Tamannya bersih, terawat, dan sangat family friendly. Biaya masuknya klo weekend 40rb dan weekday 24rb. Jenna gak dihitung masuk, jadi saya dan istri berdua jadi 80rb. Kita dikasih gelang kertas gitu. Oh ya, bayar masuknya gak bisa pakai kartu debit/kredit, jadi siapin cash. Bisa sih, tapi musti jalan dikit ke counter food court untuk beli kartu prepaid di sana.

baca juga : [Supercoolkids] Mulai Berinteraksi Dengan Orang Lain

Fasilitas yang terdapat di dalam taman ini ada tempat wall climbing, ada taman rumput, ada tempat skate board, ada ayunan berbagai jenis, ada tempat pancuran main air gitu, ada sawah, ada tempat main remote control, ada tempat main sama kelinci, dan banyak lainnya. Lebih lengkap nanti saya post di vlog supercoollife yah 🙂

Spot yang paling menarik tentunya taman rumput terbuka. Di sini Jenna bisa puas banget jalan-jalan kesana-kemari. Jatuh pun gak sakit karena bawahnya rumput. Terus juga Jenna seneng banget karena banyak orang. Orang asing yang ada di dekatnya di liatin sama Jenna, kadang disapa “ehh!!!” gitu. hahaha sok kenal banget sih Jenna. Tapi keliatan banget Jenna super happy main di tempat terbuka dan banyak orang begini. Dan karena masuknya berbayar, tempatnya cenderung bersih dan terawat. Saya yakin klo ini gratis dan jadi public space, pasti kotor dan semrawut.

Kayaknya ini bakalan jadi salah satu spot favorit kami sekeluarga deh. Jadi klo mau ketemu Jenna, sering-sering aja main ke Scientia Square Park ini siapa tahu Jenna lagi di sana :p Hahaha Pokoknya nanti cerita lebih lengkap dan lebih serunya tunggu aja yah di vlog Supercoollife tentang Scientia Square Park 🙂

Bermain Di Kidspace Pondok Indah

Jenna bisa dibilang termasuk anak yang sangat aktif bergerak. Bisa dibilang perkembangan motorik kasarnya sangat cepat. Terakhir ke dokter, katanya sih anak usia 8 bulan ini perkembangannya udah kayak anak 11 bulan. Kalau untuk skill lainnya sih relatif sama. Untuk saya dan istri mencoba untuk lebih banyak memberikan aktivitas yang bisa menjadi ajang eksplorasi motorik kasarnya Jenna.

Salah satu alternatif yang kami coba lakukan adalah dengan membawa Jenna main ke semacam gym untuk anak-anak. Mostly sih program gym motorik kasar gitu untuk anak yang udah satu tahun dan sudah bisa jalan, jadi kami coba cari arena yang bisa dimasukin Jenna (yang waktu itu masih 6 bulan dan baru bisa merangkak). Setelah mencari-cari, istri menemukan ada tempat main untuk anak-anak bayi di daerah Pondok Indah namanya Kidspace.

Kidspace ini isinya ada banyak kegiatan dan kelas untuk anak-anak berbagai macam usia. Bahkan ada juga kelas Tae Kwon Do pas kami ke sana. Kalau mau tahu lebih detil program-programnya, coba ja cek Facebook, Twitter, Instagram, dan Path @kidspacejakarta. Kalau kami memang ke sana untuk membawa Jenna di area main yang khusus untuk bayi (kalau gak salah di bawah 2 tahun) sehingga tidak ribet campuran sama kakak-kakak yang sudah lebih besar.

baca juga : [Supercoolkids] Review Gendongan Bayi iAngel

Lokasinya ada di seberang masjid Pondok Indah. Dari depan ada plangnya kecil sih, jadi emang harus pelan-pelan. Pas masuk, langsung ketemu meja resepsionis untuk beli tiket masuk. Saya sejujurnya lupa berapa harganya, nanti kalau ada yang penasaran tinggalkan komen aja, saya coba tanyakan Dea. Lalu kami langsung menuju ke ruang yang khusus untuk bayi. Oh ya, semua yang masuk harus pakai kaos kaki yah.

Tempat main anak-anak bayinya lumayan luas. Apalagi kami ke sana pas lagi tanggal merah dan pagi-pagi, jadinya cuma ada Jenna aja di tempat segede gitu. Seluruh lantainya pakai playmat jadi aman untuk Jenna puas-puasin merangkak dan merambat sana-sini. Temboknya juga ada mat-nya jadi juga aman terhadap benturan. Di dalam ruangannya ada banyak mainan mulai dari perosotan, mobil-mobilan, mandi bola, dan lain-lain. Berhubung ini arena main, jadi ya free to play aja gak ada instruktur ato program apa-apa.

Dan tentu saja mainan paling favorit Jenna adalah tembok kaca :p hahaha di rumah juga Jenna juga selalu excited kalo udah ketemu sama kaca. Ini ada satu sisi tembok yang isinya kaca semua, jelas lah heboh langsung Jenna 😀 hehehe Katanya juga kaca itu bagus untuk meningkatkan confidence anak sih. Semakin siang, semakin rame. ada sekitar 2-3 anak lagi yang datang ke lokasi. Bagus sih Jenna jadi belajar bersosialisasi juga sama temen-temen. Biasa kan di rumah cuma sama papa mamanya doang. Mungkin kapan-kapan ke sini enak juga yah buat playdate gitu yah jadi bisa main sambil bersosialisasi.

baca juga : [Supercoolkids] Mulai Mengenalkan Metode Makan Baby Led Weaning

Overall sih tempatnya oke banget yah terutama buat Jenna yang super aktif. Selain bisa menyalurkan energi Jenna dengan berbagai permainan yang ada di Kidspace, tempatnya juga enak buat jadi tempat untuk bersosialisasi dan playdate. Minusnya sih cuma lokasinya aja yang jauh dari BSD :p Kayaknya di daerah BSD-Bintaro juga ada sih, tapi yang ada ruang khusus untuk bayinya belum nemu selain di Kidspace Jakarta ini.