[Supercoolday] Persiapan untuk “The Proposal Day”

Konsolidasi dengan Icha (Gambar sengaja dibikin blur :p)
Konsolidasi dengan Icha (Gambar sengaja dibikin blur :p)

Setelah melalui proses ini, tahap selanjutnya adalah meminta restu dari orangtuanya Dea dan mempersiapkan proses proposal ke Dea. Ini merupakan tahap yang lumayan pelik karena selain jadwal saya sedang tidak manusiawi, tubuh saya sedang tidak fit (dan akhirnya sakit), ditambah lagi ini semua harus dilakukan tanpa sepengetahuan Dea (karena ingin membuat surprise ke Dea), juga waktu yang sangat terbatas untuk mempersiapkan segala keperluan untuk melamar.

Untuk persiapan, yang pertama adalah konsep melamarnya. Untuk proses lamaran, kalau menurut adat, standarnya adalah keluarga besar saya datang ke kediaman keluarga besar Dea, lalu nanti orang yang paling dituakan di pihak saya akan menyampaikan lamarannya ke keluarga besar Dea yan akan dibalas oleh orang yang dituakan dari pihak keluarga Dea. Tapi, rasanya Saya juga ingin melamar langsung ke orangtuanya Dea dan ke Deanya. Setelah berdiskusi dengan Ibu, akhirnya rencana saya ini gak papa dijalankan, tapi nanti tetep ada lamaran resmi sama keluarganya. Oke tidak masalah kalau begitu. Akhirnya sayapun mulai menyiapkan konsep untuk melamar Dea secara langsung.

Saya punya banyak sekali konsep yang sudah saya bayangkan sejak lama, mulai dari yang super lebay sampai yang simple. Untuk bisa memutuskan konsep mana yang ingin saya pakai, saya konsultasi dulu ke beberapa sahabat dekat Dea. Pertama saya konsultasi ke Icha (Hari Rabu tanggal 13 Februari), saya ceritakan beberapa konsep yang ada di bayangan saya, konsep-konsep yang cukup menarik yang ada di youtube, dan coba brainstorming konsep apa yang bisa digunakan lainnya. Untuk Dea, tidak bisa yang terlalu cheesy, yang terlalu crowded, dan terlalu berlebihan. Tapi kalau yang terlalu simple, Saya rasa sayang. Saya cuma propose dia sekali seumur hidup, jadi mending disiapin maksimal sekalian. Akhirnya, setelah diskusi dengan sahabat-sahabat Dea, dapatlah satu konsep proposal. Konsepnya seperti apa, nanti saya ceritakan di postingan selanjutnya 🙂

Setelah konsep beres, PR berikutnya adalah cari venue dan persiapan teknis. Untuk venue, saya ingin cari yang dekat dari kantor Dea agar gak terlalu lama di jalan dan bisa segera sampai lokasi, lalu saya juga butuh ruangan yang private untuk didekorasi, dan ruangan yang cukup besar karena saya ingin mengundang beberapa sahabat dekatnya Dea. Setelah mencari-cari venue, jatuhlah pilihan saya kepada Raja Rasa di Cilandak. Selanjutnya untuk dekorasi dan persiapan teknis, saya meminta tolong bantuan teman saya dari SMA, kepala divisi dekorasi acara Linguistik 2007, Haitie. Saya ketemuan sama Haitie hari Senin tanggal 18 Februari dimana hari Minggunya saya baru dari Jakarta dan baru sampe Bandung jam 12 malam. Senin paginya ada meeting ketemu notaris. Semenjak hari itu, badan saya rontok dan langsung sakit. Pas ketemuan sama Haitie Senin malam itu, saya juga sengaja pilih tempat di Pizza hut biar bisa makan sup yang hangat dan salad yang menyehatkan. Hehehe. Saya ceritakan ke Haitie konsepnya, Haitie minta saya untuk survey lokasinya juga biar dia enak dekornya. Setelah ada Haitie yang membantu menyiapkan dekorasi, pikiran saya bisa lumayan fokus ke hal lain. Jujur saja, kondisi saya di tanggal-tanggal itu bener-bener lagi super blank. Kerjaan kantor lagi banyak, persiapan untuk lamaran banyak, dan kesehatan saya lagi drop. Kalau tanya orang-orang kantor, saya udah gak jelas banget deh di kantor saking blanknya.

Okay, next step, the ring. Untuk cincin ini, saya sudah tau mau membeli yang model gimana soalnya saya pernah modus membuat dea googling-googling model cincin di ipad saya (dulu bilangnya buat kira-kira budget nikah untuk cincin nikah). Pas ada yang dea bilang “ih ini lucu,” Pas Dea gak liat, saya print screen diem-diem. Nah, jadi pas mau nyari model, pertama saya ubek-ubek file komputer saya dulu karena saya lupa itu print screen saya save dimana -_- Akhirnya setelah lama ngubek-ubek, ketemu juga itu file. Saya buka linknya, dan ternyata tokonya di Jogja. Wah. Kok jauh. hahaha… Saya konsultasi sama beberapa temen, ada yg nyaranin coba di Blok M Square aja, banyak yang bagus-bagus. Tapi saya takut modelnya Dea gak suka. Akhirnya saya tetep aja mesen via SMS ke toko di Jogja ini. Awalnya saya ingin dari bahan emas putih, ehhh ternyata jadinya 6 Minggu. Doh, kok lama bener. Akhirnya dicarikan solusi dari bahan lain yang bisa jadi dalam 10 hari. Fiuh.

Konsep sudah, dekor dan teknis sudah, cincin sudah, yang kurang tinggal bagian terpenting yakni restu dari orang tuanya Dea. Ketemu haitie tanggal 18 (hari Senin) saya janjian untuk ketemu sama orang tuanya Dea tanggal 20 (hari Rabu). Dari Selasa malam saya sudah nyetir balik lagi ke Jakarta dengan kondisi tubuh yang super lemes. Malemnya email kerjaan masih datang bertubi-tubi, paginya pun email masih banjir. Bahkan, ketika saya ingin berangkat ke rumah orang tuanya Dea, sudah duduk di mobil, saya masih membalas email. Itu saya udah gak ngerti lagi email yang saya balas apaan, hahaha.. Janjian jam 13:00, jam 10:30 saya sudah berangkat dari rumah biar gak telat. Ternyata saya sampai kecepetan, yasudah saya berhenti dulu di pom bensin, beli cemilan sarapan, Sholat zuhur, lalu menjelang jam 13:00 berangkat lagi.

Sedikit bocoran konsep lamaran, saya ingin mendokumentasikan secara candid obrolan saya dengan orangtuanya Dea. Saya sudah siapkan teknik duduk dan penempatan tas agar bisa mengambil muka saya dan muka orang tuanya dea dengan baik. Namun ternyata rencana itu kandas karena tak disangka, kami ngobrol-ngobrol santai dan duduk lesehan. Saya korbankan kamera iPad saya di dalam tas (tapi tetap saya play) tidak bisa merekam muka saya. Yang saya gunakan hanya Lumia saya yang saya pegang (secara natural) di tangan dengan kondisi merekam. Setelah obrolan panjang, obrolan penting, dan obrolan panjang lagi, saya cek HP saya, ternyata masuk screensaver dan proses merekamnya terhenti 😥 Rekamannya tidak adaaa… Namun masih ada sih rekaman yang hanya suaranya saja di iPad. Yasudah, itu saja yang saya jadikan bekal untuk prosesi lamaran nanti. Yang pasti, Alhamdulillah saya sudah mendapat lampu hijau dan dukungan dari orangtuanya Dea untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dan memberikan suprise di hari ulang tahunnya dea 🙂 Jadi saya juga pesen ke Ayah Bundanya Dea untuk jangan bilang-bilang ke Dea kalau saya sudah datang dan meminta ijin, biar nanti Deanya surprise 😀

Okay, persiapan sudah hampir beres semua, tinggal beberapa konsolidasi dan ada satu tantangan besar lagi. Saya ingin menggunakan hadiah-hadiah anniversary yang pernah saya berikan ke Dea sebagai bagian dari konsep lamaran. Tantangannya adalah barang2nya ada di kamar Dea dan saya harus ambil itu tanpa sepengetahuan Dea. Tadinya mau saya ambil tanggal 3 (hari Minggu) karena niatnya ingin melamar pas Dea ulang tahun tanggal 4. Eh, tapi ternyata Dea pulang ke rumah tanggal 3, terpaksa baru bisa saya ambil hari Seninnya. Bagaimanakah prosesi lamaran tanggal 4? Saya posting di tulisan berikutnya saja yah biar tidak kepanjangan 🙂

Advertisements

3 thoughts on “[Supercoolday] Persiapan untuk “The Proposal Day”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s