[Supercoolday] The Proposal Day

The Proposal Day
The Proposal Day

Melanjutkan postingan saya di sini dan sini, akhirnya tanggal 4 Maret tiba. Hari itu, Dea ulang tahun dan tidak tahu apa-apa mengenai kado dan kejutan yang akan saya lakukan. Rencana saya hari itu adalah jam 11 ke rumah Dea di BSD untuk “mencuri” kado-kado anniversary saya ke Dea, setelah itu lanjut ke The Plaza Office untuk ketemu Roy minjem tripod buat HP (untuk dokumentasi), lalu ke Raja Rasa untuk membantu dekorasi dan persiapan teknis, kemudian menjemput Dea di kantor. Ohya sekedar informasi, hari itu pun kesehatan saya tidak kunjung membaik, masih flu parah. Tapi untungnya sudah tidak begitu pusing dan lemas, tinggal batuknya aja agak annoying -_-

Perjalanan pertama menuju BSD. Jalanan agak macet, tidak kayak biasanya di jam-jam senggang yang harusnya jalanan sepi. Sampai rumah Dea jam 11 lewat 15 kalau tidak salah. Sampai sana, ngobrol-ngobrol sama orangtuanya Dea, ngambil box tempat penyimpanan kado-kado itu, lalu ditawarin makan siang juga. Tak terasa, sudah jam 13:00 dan saya masih harus ke The Plaza. Setelah pamit, saya mencoba mengkalkulasi perkiraan traffic Jakarta. Kalau jam 13 dari BSD, paling cepet sampai The Plaza jam 14:30. Wah bisa bahaya kalau terjebak macet yang tidak terprediksi ataupun terkena 3-in-1. Akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak ke The Plaza dan mencari tripod untuk HP di Point Square Lebak Bulus yang searah ke Raja Rasa.

Point Square selama ini hampir tidak pernah mengecewakan saya untuk masalah perangkat elektronik dan aksesorisnya. Tapi kali ini saya harus pulang dengan tangan hampa. Hampir seluruh lantai saya susuri dan berbagai gerai saya tanya apakah mereka menjual tripod untuk HP, namun ternyata barang tersebut belum begitu familiar di Indonesia. Yasudah, saya ikhlaskan saja tidak ada dokumentasi di lokasi proposal yang menggunakan kamera. Nanti saya coba pikirkan opsi lain untuk merekam prosesi proposal tersebut, yang penting sekarang saya harus segera menuju Raja Rasa untuk mempersiapkan dekorasi.

Jadi di Raja Rasa, saya menyewa dua ruangan. Satu ruangan VVIP dan satu ruangan VIP yang letaknya bersebelahan dan hanya dibatasi oleh sekat (yang bisa dibuka). Satu ruangan akan digunakan sebagai tempat makan, ngumpul-ngumpul, dan bersembunyinya temen-temennya Dea (yang VIP) dan ruang yang satu lagi akan didekorasi sedemikian rupa untuk prosesi proposal nanti. Jam 15:00 Saya, Haitie, dan Arif sudah tiba di lokasi. Kami mulai mengatur tata letak meja kursi, meniup balon, mensortir foto, dan banyak hal lainnya. Seiring berjalannya waktu, bala bantuan pun bertambah. Geng Arsanesia (Irul, Dana, Dera) datang untuk memberikan tenaga tambahan dalam mempersiapkan dekorasi.Waktu sudah menunjukan pukul 16:00, Saya harus segera menjemput Dea di Wisma Mulia. Saya tinggalkan dulu teman-teman yang sedang mendekor, saya siapkan nomer HP Arif, Haiti, dan Imam untuk mengkoordinir TKP selama saya pergi dan memastikan jangan sampai ketika saya sampai lokasi dan turun dari mobil, ketemu salah satu teman Dea dan pasti bakal awkward banget “eh lo kok ada di sini?”.

Jam 17:00 Saya sudah bersama Dea di mobil. Dea sama sekali belum menyadari apa yang akan terjadi. Mungkin di dalam pikirannya, kita cuma mau makan malem bareng. Saya pun berusaha terus untuk membuat percakapan yang menunjukan ini tidak akan ada hubungannya dengan proposal seperti nanya-nanya tentang cincin tunangan maunya beli yang kayak gimana seakan-akan Saya belum sama sekali memikirkan tentang cincin tersebut. Konsep proposalnya juga saya coba diskusikan di mobil biar semakin yakin klo saya belum merencanakan apa-apa untuk proposal. Dan yang harus saya sesali, saya terpaksa sekali berbohong mengatakan belum minta ijin ke orangtuanya dea, belum ngobrol sama sekali tentang persiapan nikah. Jujur yah, Saya paling gak suka dan gak mau berbohong. Abis ngomong itu aja perasaan saya amat sangat bersalah dan saya pasti bakal langsung minta maaf begitu saya sampai di lokasi. Abis mau gimana, klo gak gitu surprisenya jadi berantakan -_-

Jam 18:00 kami sampai di Raja Rasa. Hehe perasaan udah semakin berdebar-debar, gak sabar buat ngasih surprise ke Dea. Saya ajak Dea jalan masuk ke ruang VIP. Begitu pintu saya buka dan Dea masuk, dia langsung shock. Hal pertama yang saya lakukan tentu adalah minta maaf karena sudah bohong kalo kita cuma mau makan malem dan Saya belum mempersiapkan apa-apa untuk lamaran. Tapi kayaknya Dea juga shock dan kaget banget dengan kejutan ini. Begitu masuk ruangan, saya langsung antar ke spot “wall of memory.” Sebuah tembok berisikan ratusan foto yang merupakan dokumentasi kita dari pertama kali kita bertemu sampai 6 tahun ke depan. Ada sebuah foto legendaris yang saya sudah pesan kepada Haiti untuk dibuat menonjol, yakni foto pertama saya dengan Dea. Foto tersebut adalah foto pertama Saya dengan Dea yang saya dapatkan dengan modus. Waktu itu saya sebagai ketua 3 OSIS sedang jalan-jalan dengan koordinator divisi di bawah saya (dan Dea salah satunya). Kita jalan-jalan ke Dufan, waktu itu Saya dan Dea belum ada hubungan apa-apa jadi kalau mau minta foto berdua dengan Dea pasti aneh banget kan. Jadinya saya minta foto berdua dengan masing-masing koordinator divisi hingga akhirnya dapat foto berdua tersebut. Tentu begitu saya tunjukan foto tersebut ke Dea di ruangan itu, Dea langsung ketawa. Hehehe. Setelah lihat-lihat foto kenangan dari tahun pertama sampai tahun keenam itu, saya ajak Dea untuk melihat sebuah display di meja.

Di meja tersebut, sudah tersusun kado-kado anniversary dari yang pertama hingga yang terakhir kami rayakan. Salah satu kado anniversary pertama yang saya berikan ke Dea adalah sebuah kue brownis (yang katanya rasanya kemanisan). Tadinya saya mau buatkan itu lagi untuk hari ini, tapi melihat kondisi kesehatan saya yang tidak bisa diajak kompromi dan oven yang terakhir kali saya pakai ya ketika bikin brownies 6 tahun yang lalu, akhirnya saya urungkan niat tersebut. Saya bawa saja resep asli yang waktu itu saya pakai untuk membuat kue dan foto kue tersebut (dengan hiasan permen fox-nya :p). Nah, pas di meja inilah Dea mulai curiga. Itu kado-kado yang ada di kamar Dea gimana bisa sampai ada di tempat itu. Saya menjawab kecurigaan Dea dengan memutarkan video di laptop yang berisikan percakapan Saya dengan orangtuanya Dea. Saya Play video tersebut dan Dea nonton video tersebut dengan serius dan haru. Begitu video itu selesai, saya tunjukan ke Dea satu lagi kejutan. Di kado anniversary ke-3, saya membuat sebuah hexagon dari karton yang berisikan foto-foto kami, lalu di atasnya ada potongan foto kami berdua dan juga menara Eiffel. Semangat dari kado tersebut adalah mimpi kami berdua untuk keliling Eropa suatu saat nanti. Nah, di dalam hexagon tersebut, sudah saya tempelkan dari ketika kado itu dibuat sebuah notes yang isinya adalah kalimat yang digunakan untuk melamar Dea. Saya berikan gunting ke Dea, saya minta Dea buka hexagon itu, dan begitu melihat note tersebut, Dea gak percaya kalau tulisan itu udah ada di situ dari dulu. Dea masih sibuk ngotak-atik itu hexagon, begitu dia balik badan, saya langsung mengeluarkan kotak merah.

Saya keluarkan kotak yang berisi cincin, kneel down in one knee, dan saya tanyakan kepada Dea apakah bersedia untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya bersama Saya. Dea masih kaget dan panik gitu, tapi saya cuma tersenyum sambil menunggu jawaban dari Dea. And then, She said yes. Dea mengenakan cincin yang saya berikan (yang agak longgar ternyata di jari manisnya), lalu kami menikmati moment haru tersebut sesaat. Setelah itu, Saya tanyakan ke Dea, “sudah siap buat kejutan selanjutnya?” Lalu saya bawa Dea ke ruangan VVIP dimana di sana seluruh sahabat dekat Dea sudah menunggu..

Saya buka pintu ruangan VVIP, ruangan agak gelap, dan tiba-tiba teman-teman memberikan suprise dan menyanyikan lagu ulang tahun buat Dea. Lampu dinyalakan dan kami melihat ada sekitar 20an orang di sana dan sebuah kue ulang tahun dengan lilin di meja. Bisa dibayangkan pastinya, Dea kaget parah. Hihihi maaf yah, pasti malu banget itu. Tapi saya rasa momen ini harus ada, momen dimana kita bisa sharing kebahagiaan kita bersama orang-orang terdekat (dan saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang sudah hadir 🙂 ucapannya ada di sini). Setelah itu Dea tiup lilin potong kue, dapet banyak kado dari teman-teman, kita lalu makan malam. Sambil makan malam, kami sambil ngobrol-ngobrol dengan temen-temen yang sudah dateng, mengucapkan terima kasih mereka sudah bersedia dateng dan merayakan moment ini bersama-sama. Selesai makan, kami sempat berfoto-foto dan mendokumentasikan moment ini bersama temen-temen. Nah, sebenernya prosesi proposal yang saya ceritakan dari awal hingga akhir ini ada rekamannya, hihi tapi biar aja jadi dokumentasi pribadi :p Cerita di atas udah cukup menggambarkan kan 🙂

Demikianlah prosesi Saya melamar Dea. Selanjutnya saya akan banyak bercerita tentang persiapan menuju [Supercoolday]. Di bawah ini beberapa dokumentasi foto dari acara tersebut. Tribute to Dera yang udah menjadi seksi dokumentasi 🙂

The Wall of Memory
The Wall of Memory
The Table of Gifts
The Table of Gift
The proposal
The proposal
Birthday Cake
Birthday Cake
With Ascova
With Ascova
With Informatika
With Informatika
With my bestfriends
With my bestfriends
With Arsanesia
With Arsanesia
Foto Pertama
Foto Pertama
With G-Dragon
With G-Dragon
Otak di balik semua ini *Haitie dan Icha
Otak di balik semua ini *Haitie dan Icha
With Hedi Yunus :p
With Hedi Yunus :p
Advertisements

7 thoughts on “[Supercoolday] The Proposal Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s