Review Gendongan Bayi iAngel

Akhirnya saya sempat menulis review terkait iAngel juga, hehehe. Ini merupakan salah satu topik yang paling banyak yang nanyain soalnya saya sering banget post foto di instagram pakai gendongan itu. Malah rasanya kamu akan sangat jarang melihat Jenna di stroller. Iya, semenjak ada iAngel, stroller jadi nganggur. Saya dan Dea udah hunting dan testing berbagai jenis gendongan. Sebenernya tidak ada yang kurang dari gendongan yang terakhir saya review, yakni Aprica. Namun ada satu fitur menarik dari iAngel yang membuat saya akhirnya memilih iAngel.

baca juga : [Supercoolkids] Review Gendongan Bayi Aprica

Yang pertama dan yang utama adalah hip seat. Saya beli iAngel yang bisa model ransel, bisa model hipseat + ransel, dan bisa hipseatnya saja. Jadi bagian bawahnya ada dua (hipseat dan ransel) yang bisa ditukar-tukar dengan bagian atasnya. Kita bisa ubah mau hipseat + ransel, ransel, hip seat aja. Sangat fleksibel tergantung kebutuhan kita. So far kalau buat jalan-jalan kita pakai mode ransel. Mode ransel ini lebih ringkas, ringan, dan rapet (jadi Jenna bisa tidur nyaman). Kalau buat di rumah misalkan mau sambil ngapa-ngapain, pakai hipseat. Dengan menggunakan hipseat-nya saja, kita bisa menggendong Jenna dengan satu tangan megang bagian depannya dan tangan satunya agak bebas. Ini biasa saya gunakan kalau lagi mau misalkan ngangetin susunya Jenna, ngambil barang, atau aktivitas yang cuma perlu gendong Jenna sebentar. Nah kalau mode hipseat+ransel baru saya pakai kalau mau jalan yang agak jauh dan bakal gendong Jenna dalam waktu lama. Menggunakan mode ini membuat berat Jenna terbagi rata di berbagai bagian tubuh sehingga tidak bikin pegel. Kayak kalau mau travelling jauh gitu, enakan mode hipseat + ransel.

Menggunakan mode ranselnya saja (tanpa hip seat)
Menggunakan mode ranselnya saja (tanpa hip seat)

Lalu yang kedua kalau mau bandingin ransel iAngel vs ransel Aprica, build quailitynya jauh. iAngel keliatan semua komponen dibuat dengan detail. Bahkan sesimpel melonggarkan atau mengencangkan tali terasa lebih mudah dengan iAngel. Fitur ini juga penting loh karena untuk memasang dan melepas ranselnya perlu melonggarkan talinya terlebih dahulu. Kalau mau menggunakan iAngel tanpa bantuan orang lain, maka kita harus melonggarkan dulu bagian ranselnya hingga pengunci di punggung bisa terjangkau oleh tangan kita di sekitar leher. Ketika selesai dikunci, baru kita kencangkan lagi bagian ranselnya sehingga tidak longgar. Dengan desain dan bahan yang berkualitas, proses melonggarkan dan mengencangkan menggunakan iAngel menjadi jauh lebih mudah daripada dengan menggunakan Aprica. Tapi bukan berarti Aprica gak bagus yah.

baca juga : [Supercoolkids] Menggunakan Gendongan Baby Wrapper Pittari

Dengan menggunakan iAngel, stroller jadi jarang dipakai karena menimbang sisi kepraktisan. Sayang harganya iAngle emang agak mahal. Yang saya pakai itu seri rainbow, harganya sekitar 2,7jt. Tapi bener-bener worth it banget lah. Kemaren ke Bali sangat praktis mobilisasinya dan tidak pegel bawa-bawa Jenna keliling (ah ya, masih harus posting tentang liburan ke Bali. Nanti yah nunggu sekalian Vlognya *yang udah dari kapan tau belum diupdate*).

Mode hipseatnya doang
Mode hipseatnya doang

So, kalau ada yang mau nanya-nanya tentang iAngel, silahkan silahkan tinggalkan komentar. Kalau mau tahu belinya dimana juga boleh 🙂 Oh ya kelupaan. Dari berbagai posisi yang bisa digunakan dengan iAngel, ada satu posisi yang belum pernah saya coba yakni menggunakannya di punggung. Mungkin nanti kapan2 saya coba deh pakai untuk dipunggung.

*untuk gambar mode hipseat + ransel itu yang gambar di paling atas

Advertisements

Review Gendongan Bayi Aprica

Ketika bulan-bulan awal, gendongan bayi berjenis Baby Wrapper bernama Pittari sangat membantu saya. Kalau ke mall, bawa Jenna di Pittari ini enak banget. Jenna bisa pules tidur karena nyaman di dalam baby wrapper ini. Seiring Jenna bertambah besar, semakin banyak gerakan yang ingin dia lakukan. Baby wrapper yang modelnya agak ketat ini membuat Jenna jadi tidak bisa bebas bergerak.

Alhasil kami coba cari gendongan bayi lain. Ada beberapa yang ada di dalam incaran kami. Yang jenis Baby Carrier berbentuk ransel yang bisa digunakan untuk menghadap depan dan belakang (bahkan bisa digendong belakang) dan Baby Carrier yang ada Hip Seat-nya. Kami sudah mencoba dua-duanya, tapi saya ingin fokus review ke merk dari Jepang yang bernama Aprica ini.

baca juga : [Supercoolkids] Menggunakan Gendongan Baby Wrapper Pittari

Dalam mencari Baby Carrier, salah satu hal utama yang musti kita pertimbangkan adalah posisi kaki bayi. Banyak gendongan bayi yang membuat posisi kaki bayi berbentuk huruf “V” yang konon katanya membuat bayi tidak nyaman dan tidak sehat untuk tumbuh kembang tulang anak. Jadi kita harus cari yang bagian dudukannya agak lebar sehingga kaki bayi membentuk hutuf “M.”

BIsa leluasa beraktivitas
BIsa leluasa beraktivitas

Ada dua jenis Baby Carrier dengan model M ini, ada yang pakai Hip Seat dan ada yang tidak. Nah si Aprica ini termasuk yang tidak pakai Hip Seat. Sama seperti Ergobaby dan Pognae. Yang jelas, hal utama yang saya rasakan ketika menggunakan Aprica ini adalah praktis dan nyaman. Praktis karena proses memakaikannya sangat mudah, tidak seperti baby wrapper yang musti dililit sana-sini. Nyaman karena berat bayi terdistribusi ke pinggang dan punggung dengan baik sehingga tidak terasa terlalu berat.

baca juga : [Supercoolkids] (Hampir) Semua Bisa Disewa

Jadi jelas dengan pakai Aprica, flow untuk bawa Jenna jalan-jalan jadi lebih mudah. Kalau bawa stroller kan agak repot tuh klo musti naik eskalator atau nunggu lift cukup lama. Atau kalau digendong, pasti pegel dong. Nah dengan Aprica yang desainnya oke ini, jadi gampang banget mau mobilisasi sama Jenna. Kita tinggal pake baby carrier dan selanjutnya bisa melakukan aktivitas biasa. Lalu juga dengan desain yang ergonomis, berat Jenna jadi gak begitu kerasa. Jenna juga nyaman banget di dalem gendongannya dan sering sampe ketiduran. Tapi emang ini baru bisa dipake sama bayi umur 3 bulan ke atas sih, kalo enggak bakal tenggelem.

Jenna bisa gigit2 bagian pinggirannya
Jenna bisa gigit2 bagian pinggirannya

Dari sisi build quality, menurut saya sih oke yah. Tapi gak yang gimana banget gitu. Bahannya enak dan lembut, ada gigitan bayinya di bagian talinya. Gigitan bayi ini sangat bermanfaat karena di umur-umur bayi 4-5 bulan, lagi seneng masukan apapun yang ada di deket mulutnya. Termasuk tali gendongan bayi ini. Jadi si bagian yang bisa digigit Jenna ini bisa dilepas dan dicuci lagi.

Paling kekurangannya ada di harganya. Harganya terbilang mahal untuk urusan baby gear berupa gendonga. Aprica ini harganya 2 juta-an kalau gak salah. Makanya saya gak langsung beli, tapi sewa dulu. Nanti saya tanyakan ke istri ini sewanya dimana dan berapa (klo gak salah 150rb perbulan). Kalau mau info detilnya bisa tinggalkan pesan di kolom komentar. Sebelum membeli ini, saya masih trial beberapa merk gendongan lain. Tunggu review gendongan bayi berikutnya yah 🙂

Menggunakan Gendongan Baby Wrapper Pittari

Buat bayi yang usianya masih new born gini, digendong adalah hal yang paling dia suka. Tapi kelamaan gendong pasti pegel dong tangannya. Udah gitu kalo lagi gendong, kita jadi gak bisa beraktivitas dengan bebas. Untuk itulah diciptakan selendang yang kini berevolusi jadi baby carrier atau gendongan.

Nah alat bantu gendong ini sendiri juga jenisnya banyak banget. Mulai dari yang versi selendang tradisional tapi ada ringnya jadi gak perlu iket2 dan lebih praktis, modelnya carrier kayak tas tapi ditaro di depan, ada yang carrier ada dudukannya (dan harganya 3jutaan), dan banyak sekali model lainnya. Kebetulan hadiah Jenna lahir kemaren dapet banyak banget jenis gendongan. Sayangnya gak ada yang Jenna suka (at least pas untuk beratnya dia sekarang).

Jadilah saya dan Dea mencoba mencari alternatif gendongan lain untuk dicoba. Sampailah kepada gendongan jenis baby wrapper. Sebenernya sih kain biasa, tapi diikat dengan sedemikian rupa sehingga membentuk gendongan yang nyaman untuk bayinya (terutama new born). Pas liat tutorialnya, kok belibet makenya yah. Akhirnya cari-cari lagi, ternyata udah ada yang dibuat lebih praktis (either ada jaitannya, ada beltnya, atau bahan kainnya yang adem).

baca juga : [Supercoolkids] Memberikan Kasih Sayang Yang Bertanggung Jawab

Saya dan Dea mencari2 tuh dimana-mana. Pas ada pameran, kita kelilingin satu JCC untuk nyari baby wrapper gak ada yang jual. Kayaknya emang kurang mainstream kalau di Indonesia. Di sini yang lagi happening baby carrier yang ada kursi untuk babynya. Tapi untuk usia Jenna sekarang itu belum cocok. Satu putaran dicari gak nemu, kita muter sekali lagi sampai ke booth yang kita rasa gak mungkin jual tetep kita tanya. Sampailah kita ke booth bilna. Ternyata ada dan bisa dicoba.

Kita cobain baby wrapper merk Pittari dari jepang. Dia plusnya ada beltnya jadi mengurangi tingkat keribetan ngelibet sana-sini dan yang kedua bahannya adem jadi Jenna gak kepanasan pakai itu. Setelah tutorial make, nanya harga (a lil bit pricey sih, 600rb-an), dan pilih warna yang ternyata yang masuk indonesia cuma warna item, akhirnya kita belilah si Pittari ini.

Pas kita beli ini, Jenna masih 1 bulanan lah umurnya. Masih super maunya gendongan melulu dan selalu nangis kalau pakai gendongan yang udah kita punya. Pas ditest pakai Baby Wrapper Pittari, it worked like magic, Jenna langsung anteng, bahkan langsung tertidur. Akhirnya ini jadi senjata utama kita untuk nidurin Jenna (waktu harus ditimang-timang tiap mau tidur, sekarang alhamdulillah udah bisa tidur sendiri), senjata untuk multitasking (sambil ngoding atau ngeblog sambil gendong Jenna), dan yang paling utama untuk dibawa jalan-jalan.

Downside-nya kalau bawa jalan-jalan pakai Pittari, semua mata tertuju kepada saya dan Jenna. Gimana enggak, baby wrapper sendiri masih sangat jarang di Indonesia. Udah gitu, kepala Jenna nongol dari balik belutan kain kan lucu banget. Dan mungkin agak langka kali ngeliat bapak-bapak ngegendong bayi pakai baby wrapper gitu. Alhasil, setiap ke mal pasti diliatin orang-orang. Kadang ditunjuk-tunjuk dan disenyumin. Bahkan ada yang sampai bule Jepang teriak kawai kenceng banget pas ngeliat saya sama Jenna lagi di supermarket -_-a

baca juga : [Supercoolkids] Daftar Belanja Untuk Perlengkapan Bayi

It’s super effective, comfortable buat Jenna, tapi masih susah di cari di Indonesia, agak mahal, dan lumayan agak ribet makenya. Di bawah ini saya buatkan tutorial pakai Pittari, tapi ini versi agak berantakan karena Jennanya gerak-gerak -_- Pakai Pittari ini bisa model untuk newbord (kaki di dalem), 6 bulan (kaki di keluarin), bisa model hip carry juga. Gimana, tertarik pakaikan baby wrapper buat anaknya? hehehe

Minum Pakai Soft Cup Feeder

Halo para pembaca setia. Haduh, ini kayaknya fansnya Jenna banyak yah. Saya ditagih mulu tulisan tentang Jenna -_- Hahaha oke deh kalau gitu, ini saya post lagi tulisan Supercoolkidsnya yah. Besok-besok saya coba persering lagi deh tulisan supercoolkids tentang Jenna supaya gak pada nyariin 😀

Hari ini saya ingin cerita tentang Jenna yang semangat minumnya sangat tinggi. Seperti tulisan saya sebelumnya, Jenna lagi fase bangun setiap 2-3 jam sekali. Tiap bangun, Jenna pasti pengennya minum susu. Mau itu bangun karena ganti popok, ujung2nya dia mau minum juga buat pengantar tidur.

Kalau begini, tentu yang paling capek adalah Dea dong. Karena dia harus nyusuin Jenna tiap 2-3 jam sekali. Nah sebenernya ada opsi yang bisa bikin Dea sedikit berkurang capeknya yakni minum pakai ASI perahan. Jadi emang dea itu dari awal sampai hari ini rajin nyetok ASI perah buat nanti kalau Dea udah selesai cuti hamilnya. Kalau emang capek, ASI perah ini bisa aja ditaro di dot dan Jenna minum dari dot. Kalau begitu kan bisa saya yang ngasih minumnya, Dea bisa tidur.

baca juga : [Supercoolkids] Fase Begadang

Tapi saya dan Dea tidak ingin ngasih Jenna dot. Ini sih dari hasil riset, katanya kalau pakai dot, anak cenderung bakal lebih seneng ngedot daripada minum langsung sama mamanya. Hal ini disebabkan effort untuk minum dari dot sangatlah rendah, susunya bisa mengalir deras dengan mudah dibandingkan harus disedot dulu kalau langsung dari mamanya. Udah gitu, kalau pakai dot bisa jadi kelebihan porsi minumnya. Sama yang paling bahaya adalah kalau si anak jadi bingung puting. Karena biasa pakai dot, anak jadi gak ngenalin puting mamanya sehingga gak mau lagi minum sama mamanya. Padahal momen nyusu anak sama mamanya bakal jadi momen bonding yang sangat oke. Oh sama satu lagi, mencegah anak ngedot terus sampai gede. Saya bahkan sampai kelas 1 SD masih pakai dot walaupun untuk minum milo :p (efeknya gigi saya dulu berantakan sampai harus pakai kawat gigi).

Solusi untuk memberi minum Jenna tanpa pakai dot adalah menggunakan botol sendok atau cup feeder. Yes, anak new born bisa loh minum dari cup feeder. Tapi emang gak yang langsung bisa dan harus diajarin dulu. Ngajarinnya ini juga bukan hal yang mudah. Saya butuh beberapa kali latihan sampai akhirnya Jenna kenal dengan softcup feeder yang digunakan untuk minum. Itu pun Jenna masih gak sabaran dan pengen nyedot terus2an sampai sering keselek. Kalau udah keselek atau kedikitan minumnya, dia bakal cranky dan nangis. Kalau nangis, harus ditenangin dulu baru bisa dikasih minum lagi. Gak kayak nenen sama mamanya yang kalo nangis pun bisa langsung reda.

Perjuangan banget itu ngajarin Jenna belajar pakai soft cup feeder. Tapi setelah sekitar 1-2 minggu latihan, Jenna udah mau minum dari soft cup feeder. Masih belum lihai banget sih, masih harus ada “iklan” dimana dia harus nangis dan ditenangin dulu. Tapi semakin hari keliatan semakin pandai. Awalnya cuma berhasil masuk 10-15 ml, terus banyak yang dilepeh, banyak yang tumpah-tumpah, sampai akhirnya nambah bisa minum 40ml tanpa iklan. Kemaren sih dicobain 60ml tapi masih harus ada iklannya :p Emang untuk ngajarin pakai soft cup feeder ini, yang ngasih makan harus supeeerrr saabaaarrr dan tegaan. hehehe Tapi mending repot di awal daripada nanti repot belakangan untuk ngajarin anak ngelepas dot.

baca juga : [Supercoolkids] Menjadi Ayah (ASI?)

Sedikit tips juga, kalau paka botol sendok masih takut keselek, yang saya pakai itu enak banget. Si soft cup feeder merk medela yang saya gunakan ada pencetan di ujung gagangnya yang lunak. Kalau dipencet, air akan keluar. Jadi kita bisa mencet pelan-pelan sesuai dengan pace minumnya baby. Drawbacknya, soft cup feeder ini mahal banget harganya hahaha. Satunya bisa 400an ribu. Kalau kamu emang super sabar, bisa beneran pakai cup loh ngajarinnya. Kalau saya gak berani pakai cup. Terus triknya lagi, posisi megang Jenna saya samain kayak posisi kalau dia lagi nyusu jadi dia ngerasa sama kalau lagi nyusu. Tambahan tips, saya minuminnya pakai bantal donat dan di atas gym ball. Jadi kalau dia lagi cranky, tinggal dibounce-bounce, tenang, terus dikasih minum lagi. Hehehe

*sebenernya ada topik tentang manajemen asi perah yang sepertinya penting untuk dibahas, tapi nanti deh saya tanya dea dulu :p saya juga kurang fasih untuk topik itu