Pengalaman Foto Keluarga Dengan Skybox

Kali ini saya ingin sharing pengalaman saya melakukan sesi foto keluarga. Dalam rangka anniversary ke-10 Saya dengan Dea, kami berencana membuat foto keluarga. Namun konsep yang kami inginkan bukan yang di dalam studio foto, akan tetapi outdoor. Dan tempatnya pun kami pilih di Singapore karena dulu saya dan Dea pernah anniversary di sana. Hitung-hitung sekalian ngajak Jenna jalan keluar negeri.

Untuk menciptakan foto sesuai yang kami inginkan, rasanya tidak mungkin klo harus foto sendiri menggunakan tripod seperti yang selama ini kami lakukan. Saya ingin konsepnya natural dan santai sehingga butuh orang lain untuk bisa menangkap momen tersebut. Kebetulan ada teman saya yang seorang fotografer profesional. Dia punya usaha studio foto namanya Skybox. Portofolionya Skybox gak main-main, clientnya itu artis papan atas seperti Andine, Isyana, Raisa, dan banyak lainnya. Untuk itulah saya coba percayakan kepada Skybox untuk menciptakan foto keluarga yang kami inginkan.

baca juga : [Supercoolday] Tentang Foto Prewed

Dari proses sebelum hari H, Agra yang merupakan pemilik dari Skybox sangat membantu persiapan foto. Agra mencarikan spot-spot foto menarik di Singapore, membuatkan jadwal itinerary fotonya, hingga membantu kami menyiapkan outfit yang tepat sesuai dengan lokasi fotonya. Akhirnya dengan mempertimbangkan sesi foto bersama anak-anak, Agra merekomendasikan lokasi yang di sana Jenna bisa main-main. Terpilihlah Henderson Waves Bridge untuk sesi foto sore dan Garden By the Bay untuk sesi malam.

16105621_10154986655487700_1552574332635559735_n

Hari H sendiri pun jadwal sangat fleksibel. Berhubung Jenna lagi agak demam, kami jadinya mundur sejam biar Jenna bisa istirahat. Dari Skybox pun juga no problem dan mengerti klo foto sama anak kecil emang jadwal harus fleksibel. Kami lalu ketemuan dengan Agra dan Dian di Orchard lalu langsung menuju Henderson Wave Bridge. Dari tempat kami diturunkan oleh Uber menuju lokasi jembatannya tidak begitu jauh. Sepanjang perjalanan ke atas, Agra dan Dian sudah mulai mengambil beberapa gambar di area hiking yang hijau. Kamera yang digunakan juga bermacam-macam, yang saya lihat ada Ricoh GR II, ada Fuji X100T, ada juga Nikon (gak tahu apa). Beberapa kali terlihat kamera yang digunakan berganti-ganti tergantung kondisi dan situasi.

Ketika sesi foto utama di Henderson Wave Bridge, proses foto menjadi sangat seru. Sesuai dengan yang kami harapkan, foto sesi ini tidak kaku dan fun. Agra dan Dian sangat pandai menangkap momen, mengarahkan kami (terutama Jenna) agar melakukan aktivitas dengan santai, dan tentu saja mengabadikan berbagai momen selama di lokasi. Bagi Jenna, sesi foto ini sudah mirip kayak sesi dia main-main saja. Dia bisa jalan kesana-sini, bisa ketawa-ketawa, pokoknya seru banget.

baca juga : Jasa Fotografer Pribadi Professional

Setelah dari Henderson Wave Bridge, kami langsung menuju ke Garden By The Bay. Jenna sempet tidur dulu biar gak terlalu capek, lalu kami bertiga ganti kostum. Sama seperti sesi pertama, sesi kedua ini juga sangat fun. Bahkan karena tempatnya sangat luas, Agra dan Dian sempat survey keliling lokasi dulu untuk liat berbagai spot yang enak buat foto pas Jenna tidur. Alhasil kami keliling Garden By The Bay sambil main-main dan tentunya berbagai momen ditangkap dengan baik. Tapi memang karena kondisi Jenna sedang tidak fit, Jenna banyak di stroller dan digendong. Untungnya pun walaupun di stroller, hasil fotonya juga tetep oke 🙂

Akhirnya malam tiba, sesi foto terakhir kami mencoba menangkap lampu-lampu di Marina Bay Sand dan lampu di Garden By The Bay yang ikonik. Berbagai teknik pencahayaan digunakan demi mendapatkan foto yang oke. Lalu selesailah proses foto yang kurang lebih berlangsung sekitar 5-6 jam.

16003173_10154986657042700_2318999271463419595_n

Bagi kami, pengalaman foto bersama Skybox ini sangat berkesan. Foto sesi bersama toddler bukanlah hal yang mudah tapi Agra dan Dian membuat proses foto yang lama ini menjadi sangat santai. Mereka mampu menyesuaikan dengan mood dan pace-nya Jenna, kalau keliatan sudah agak capek, bisa langsung mengganti konsep foto yang kira-kira tetap cantik. Experience selama foto sesi ini pun menjadi menyenangkan, ya kayak main-main aja jadinya. Dan yang paling saya suka adalah hasil dari fotonya yang natural dan penuh cerita. Bukan momen adegan yang direkayasa, tapi merupakan jepretan sebuah memory yang tiap kali kita lihat foto itu, kita tahu cerita dibaliknya. Contohnya ada satu foto yang saya dan dea nyuruh Jenna ngeliat ke kamera (pakai nunjuk-nunjuk ke arah kamera) tapi Jenna asyik lihat pohon yang ada lampu-lampunya di samping. Terus Agra nyuruh kita untuk ikut nunjuk pohon aja, eh pas difoto Jenna malah lihat kamera padahal Papa Mamanya udah nunjuk samping :’) Banyak deh cerita-cerita seru yang tertangkap foto yang membuat kami bisa bernostalgia dengan kisah di balik itu.

Singkat cerita, saya sangat merekomendasikan Skybox buat siapapun yang mau foto sesi entah itu foto prewed, foto maternity, foto newborn, atau sesi foto lainnya. Setelah saya upload foto-foto tersebut di instagram pun orang-orang langsung pada nanyain Skybox karena hasilnya emang mumpuni. Kalau mau lihat bisa cek instagram saya dengan hashtag #supercool10th (tapi belum semua saya upload di IG), atau bisa cek Instagram nya Skybox, Agra, dan Dian untuk liat karya mereka dan klo mau nanya2 pricelistnya.

Advertisements

Suka Duka dan Tips BLW

Di Instagram, saya sering sekali share sesi klo Jenna lagi makan. Dan memang kebahagian orang tua adalah ketika ngeliat anaknya makan dengan lahap. Paling stres tentu ketika anak males makan atau pilih-pilih makan. Itu mengapa untuk urusan mendidik anak makan, saya bener-bener belajar dan memastikan menggunakan metode yang terbaik untuk anak.

Setelah mencari referensi dan diskusi dengan teman-teman yang sudah punya anak (dan anaknya makannya hebat), saya dan istri memutuskan untuk menggunakan metode yang namanya Baby Lead Weaning. Saya udah pernah bahas sekilas sih tentang BLW itu di blog tapi waktu itu belum menjalaninya secara langsung. Setelah hampir 5 bulan menjalani BLW, saya mau share pengalaman menggunakan BLW dari Jenna usia 6 bulan sampai sekarang.

Pertama saya ingin tentang sukanya dulu yah menggunakan metode BLW. Yang pertama adalah anak menikmati makan. Mindset makan itu menyenangkan sangat ditekankan dalam konsep BLW. Jadi anak akan makan ketika lapar, akan mengambil makanannya sendiri, akan menggigit makanan sesuai dengan kapasitasnya dia, intinya suasana makan itu fun sehingga lama-lama anak akan menanti dan mencari sesi makan. Gak pakai paksa-paksaan dan gak pakai berantem-beranteman karena momen makan terasa natural.

Yang kedua enaknya adalah praktis. Metode ini membuat anak bisa makan apapun (tentu bertahap yah) tanpa perlu preparation yang ribet. Dengan BLW, kita cukup menyiapkan makanan seukuran jari aja abis itu anak bisa makan sendiri. Anak makan, kita juga bisa sambil makan sendiri jadi tenang. Apalagi kalau travelling, gak perlu bawa alat tempur untuk makanannya Jenna. Kalau di restoran gitu, tinggal cari aja makanan apa yang kira-kira bisa Jenna makan.

Lalu kalau dukanya, yang pertama dan yang paling berasa adalah proses belajar BLW harus sabar. Ketika anak masih belum ngerti konsep makan, belum ngerti konsep lapar, itu adalah momen yang harus kita terus support. Kadang anak cuma icip-icip, cuma lempar-lempar makanan, dan tidak ada yang masuk mulut. Tapi satu tahun pertama, anak itu kebutuhan utama nutrisinya ada di ASI, jadi gak perlu terlalu khawatir. Yang penting ketika beres ASI, si anak udah bisa makan sendiri dengan mindset yang benar.

Dan duka berikutnya adalah sesi beres-beresnya hahahaha. Emang sih prepare-nya gak perlu pakai blender, gak perlu disaring, dan lain-lain. Tapi pas abis makan, si anak bakal super berantakan banget (tapi tergantung makanannya juga sih). Kalau lagi makan yang sangat heboh kayak buah naga, wah itu siap-siap aja bersihin anaknya bakal kayak mandi deh. Hahaha Terus kalau makanannya lagi yang kecil-kecil kayak nasi gitu, wah butiran nasi bertebaran dimana-mana. Itu mengapa saya ngakalinnya di bawah highchairnya Jenna, saya kasih alas koran klo lagi mau makan yang berantakan. Hehehe

baca juga : [Supercoolkids] Mulai Mengenalkan Metode Makan Baby Led Weaning

Terakhir tips-tips untuk BLW yah. Tips terpenting adalah percaya pada anak. Percaya kalau anak kita itu secara biologi dan alamiah ngerti konsep makan. Dengan membiarkan anak yang mengambil sendiri makanannya, memilih sendiri makanannya, menentukan sendiri jika sudah ingin berhenti, maka anak akan jadi percaya diri dan semakin mahir BLW.

Tips berikutnya adalah jangan ngemil di sela-sela jam makan, terutama antara makan pagi dan makan siang. Hal ini untuk melatih anak tentang konsep lapar dan mengatur jam biologis kalau ada sarapan, makan pagi, cemilan sore, dan makan malam. Karena ketika new born, waktu makan dia kan masih dua jam skali nyusu. Kalo ini pelan-pelan kita ubah timing makannya menjadi sesuai jam biologis normal.

Tips selanjutnya adalah buat suasana makan senatural mungkin. Pas anak makan, ya kita sekeluarga juga makan. Biarkan aja anak melihat orang tuanya makan, nanti dia pelan-pelan niru kok. Kalau kita sibuk duduk di depan dia mastiin dia makan, malah lebih lambat belajarnya. Dengan terbiasa seperti ini, jadi pas saya jagain Jenna, saya bisa tetap makan siang sambil Jenna makan siang sendiri. Oh ya, ini juga konsep natural jangan taro mainan di meja makan yah atau jangan sambil nonton TV. Biarkan anak fokus sama moment makan aja.

Lalu terkait teknis, sebaiknya gunakan highchair/babychair sehingga dia bisa duduk sendiri. Untuk masakan2nya, bisa beli cookbook untuk ide kira-kira dibuatin apa. Klo Jenna mostly makanannya dikukus, kadang Dea bikinin yang agak perlu diproses juga sih. Biasanya Jenna makan karbonya nasi, ubi, kentang. Klo protein ikan kayak salmon, dory, gitu Jenna suka. Sayur kesukaan Jenna udah jelas brokoli, sama labu siam dia juga suka. Buah rasanya hampir semua suka kecuali pisang, gak tahu kenapa hahaha. Dan kalau lagi traveling, kita bisa siapkan makanan2 yg gak terlalu berantakan kalau dimakan sendiri sama anak supaya gak ribet.

Itu sih Suka duka dan beberapa tips BLW. Sebenernya banyak sih tips lainnya, tapi mungkin itu tiap anak beda-beda ya tergantung karakter dan tipikal anaknya sendiri. Kalau ada pertanyaan lagi, silahkan yah 🙂 Oh ya, di bawah ini beberapa video vlog yang saya sempet bahas sedikit tentang BLW yah.

Mulai Mengenalkan Metode Makan Baby Led Weaning

Di usia menjelang enam bulan ini, Jenna sudah mulai ke fase makan selain dari ASI. Untuk metode makan, saya dan Dea mencoba menggunakan metode Baby Led Weaning (BLW). Jadi dengan metode ini, anak-anak dibiarkan untuk makan berbagai makanan tanpa bantuan orang lain.

Saya pertama mengenal metode ini dari teman saya yang sudah beranak dua. Masalah terbesar yang sering dialami oleh orang tua adalah anak yang susah makan. Dengan mengajarkan metode ini semenjak usia 6 bulan, anak-anaknya teman saya ini kalau makan lahap dan gak pilih-pilih.

baca juga : [Supercoolkids] Memberikan Kasih Sayang Yang Bertanggung Jawab

Dengan metode BLW juga, orang tua tidak perlu pusing untuk membuat bubur, puree, pakai food processor, baby rice, kombinasi buah dan sayur yang aneh, dan sebagainya. Kita cukup memberikan makanan seukuran jari yang bisa digenggam dan dimasukan ke mulut, maka kalau anak kita suka akan dimakan kalau enggak ya enggak. Metode ini juga memberikan esensi bahwa makan itu adalah kebutuhan dan harusnya menyenangkan, bukan yang sambil dipaksa makan, disuapin sambil diajak muter-muter, atau kejar-kejaran.

Jalan-jalan ke mall, bisa sama-sama makan dengan nyaman
Jalan-jalan ke mall, bisa sama-sama makan dengan nyaman

Sebenernya salah satu syarat BLW ini adalah si anak udah bisa duduk tegak sendiri. Soalnya anak harus berada di kursi sendiri dengan mejanya sendiri dan mengambil makannya sendiri. Berhubung Jenna belum bisa berdiri tegak di awal, jadi kita coba kenalin pelan-pelan aja dengan konsep menggenggam makanan, rasa makanan, dan lain-lain. Dan di masa trial ini, ternyata Jenna bisa tuh menggenggam makanan dan mengarahkannya ke mulut.

Di awal, Jenna baru ngisep-ngisep aja kayak kalau semangka kan ada airnya tuh. Lama-lama mulai belajar motek potongan makanan pakai gusinya. Kadang potekannya agak gede, secara otomatis Jenna bakal ngelepehin itu kalau ukurannya kegedean. Kalau ukurannya kecil, Jenna udah bisa menghaluskan dan menelan sendiri. Ini merupakan konsep dasar yang secara natural Jenna bisa belajar mengembangkan kemampuan oral motor skill-nya dan hand-eye coordination.

Brokoli pun dimakan
Brokoli pun dimakan
Melatih hand eye coordination
Melatih hand eye coordination
Tapi ada makanan yang Jenna belum suka juga
Tapi ada makanan yang Jenna belum suka juga

Dengan diajarkan untuk makan sendiri, makan apa yang ada di depannya, dan memberikan berbagai jenis makanan, Jenna mendapatkan experience tentang makanan yang sesungguhnya. Untuk mempersiapkan Jenna BLW ini pun kita sampai beli buku tentang BLW, buku ide resep BLW, dan yang terpenting high chair untuk Jenna bisa duduk sendiri. Nanti saya akan coba update-update lagi perkembangan Jenna ketika sudah menjalankan BLW ini yah 🙂

Buku tentang BLW
Buku tentang BLW

Jenna Mulai Berguling Dan Merangkak

Setelah kemarin sudah menjadi lebih eksrepsif dan bersuara di usia 4 bulan, di usia 5 bulan ini Jenna sudah semakin lincah bergerak. Di awal bulan ke-lima, Jenna masih kesusahan kalau mau berguling. Awalnya Jenna hanya bisa berguling dari posisi tengkurep ke posisi terlentang. Pertama kali Jenna guling, saya gak sempet ngerekam. Tapi setelah itu saya langsung standby memantau Jenna dan begitu dia mau berguling, kamera langsung siap merekam. Hahaha

baca juga : [Supercoolkids] Menjaga Jenna

Lalu setelah bisa berguling terlentang, masih belum bisa kembali ke posisi tengkurep. Pelan-pelan mulai miringin badan dan akhirnya bisa tengkurep. Itu pun kadang tangannya nyangkut di bawah badannya dan gak tahu gimana cara ngeluarin tangannya. gemez. Tapi akhirnya lama-lama udah bisa berguling-guling. Ini udah mulai harus pasang benteng di kasur karena udah semakin jauh jarak bergulingnya. Terkadang tak hanya berguling tapi berputar. Posisi Jenna tidur membuat saya atau Dea terpepet ke pinggir kasur karena disundul-sundul Jenna.

Jenna Merangkak

Setelah bisa berguling, next Jenna mulai belajar mengangkat badannya dan belajar merangkak. Yang lucu, di awal, Jenna bisanya merangkak mundur. Lucu banget ngeliatnya cuma bisa mundur dan berguling. Tapi itu pun udah bikin Jenna gak bisa ditinggal di kasur sendiri lagi sih. Nah yang mulai ekstrim adalah ketika udah bisa maju. Saat ini sih masih belum bisa merangkak yang lancar sih, masih terbata-bata dan kadang maju dengan gerakan uget-uget gitu.

baca juga : [Supercoolkids] Mulai Berinteraksi Dengan Orang Lain

Untuk merangkak dari sisi jarak sudah semakin jauh. Sudah bisa angkat badannya, ngegerakin kakinya ke depan, lalu memajukan tangan kanannya ke depan, tapi tangan kirinya masih belum pede untuk diangkat. Makanya untuk maju, kadang Jenna agak melompat nyeruduk ke depan gitu. Hehehe Tapi ini artinya mobilitas Jenna udah semakin tinggi. Pernah suatu hari Jenna hampir jatuh dari kasur, untuk ketahan kelambu kasur di rumah. Jennanya gak nangis pula, cuma bergumam-bergumam aja manggil orang karena nyangkut di kelambu. Hehehe

Pasti bakal makin hectic lagi klo udah bisa lancar merangkak. Musti siap-siapin child safety environment kayak nutup-nutup colokan, sudut-sudut barang dikasih pelindung, dan lain-lain.  Apalagi klo nanti udah bisa jalan, pengawasan orang tua ke anaknya harus lebih intensif lagi. Udah gak bisa yang ditinggal begitu aja Jenna. Harus selalu dalam pengawasan ketat papa mamanya. Atau klo enggak, taro di box bayi yang bagian bawahnya biar gak kenapa-kenapa klo lagi main.

Mulai Berinteraksi Dengan Orang Lain

Jenna saat ini sudah jalan umur empat bulan mau lima bulan. Di sekitar empat bulan awal ini, Jenna mulai bisa berinteraksi dengan orang lain. Tentu ini makin bikin kita yang ngajak main Jenna jadi gemes :p Kalau udah bisa diajak main gini, bikin papa mamanya selalu susah buat ninggal Jenna kerja.

Awalnya, Jenna cuma bisa senyum-senyum aja. Biasa, cengar-cengir kalau diajak ngobrol. Di-cilukba-in udah mulai bisa nyengir. Itu aja udah lucu banget ngeliatnya. Lalu setelah itu Jenna mulai bisa ketawa. Ini yang paling gemez sih ngeliatnya. Udah gitu hal yang bisa bikin Jenna ketawa kadang hal-hal random gitu.

Jenna mulai bisa ketawa klo diajak main
Jenna mulai bisa senyum klo diajak main

Pertama kali Jenna ketawa adalah ketika ada sepupunya yang lebih besar main ke rumah. Padahal sepupunya cuma lompat-lompat, tapi Jenna ngakak luar biasa. Itu jujur saya sama Dea shock banget pertama ngedenger bunyi ketawanya Jenna :’) Saking shocknya saya gak sempet ngerekam :p Tapi sempet sih beberapa waktu kemudian ngerekam walopun udah gak segeli sebelumnya. Abis itu trik yang sama sudah tidak laku.

baca juga : [Supercoolkids] Menjaga Jenna

Saya penasaran dong. Saya coba cari trik lain. Pas lagi di rumah, saya coba pakai trik robekan kertas. Ada tuh video youtube bayi ngakak banget ngeliat kertas dirobek. Daannn,,, ampuh. Hahaha Jenna ketawa ngakak banget denger suara robekan kertas :p Tapi lucunya lagi, udah cuma satu hari itu aja berlaku. Besoknya udah gak lucu lagi trik yang sama :p saya harus cari trik lain mulai dari mainin kunci, cilukba, dan lain-lain. Intinya orang tuanya harus kreatif :p (untuk videonya, tunggu di vlog saya yah :D)

ketawa gara-gara robekan kertas (tunggu videonya di vlog yah)
ketawa gara-gara robekan kertas (tunggu videonya di vlog yah)

Lalu baru-baru ini, Jenna mulai ngoceh-ngoceh. Kalau sebelumnya suara hanya keluar kalau ketawa, sekarang dia udah mulai berusaha ngomong. Emang sih suaranya masih eehh ehhh,, pelan-pelan ada vokal suara lain yang muncul tapi tetap masih belum begitu jelas (ini juga videonya bakal saya upload di vlog). Namun ini jadi momen interaksi yang sangat menarik. Kita bisa ngobrol dan berinteraksi dengan Jenna walaupun dengan bahasa yang berbeda :’)

Ya mumpung lagi masa-masa mengenal suara, saya coba untuk mengajarkan Jenna kata-kata dasar, kayak mama papa. Kira-kira nanti kata pertama yang dicupakan Jenna apa yah? Hehehe

Seni Menidurkan Jenna

Semakin besar, Jenna semakin bisa tidur sendiri. Maksudnya tidur sendiri adalah bukan yang ditimang-timang sampai terlelap digendongan kita, lalu kemudian di letakan di kasurnya. Itu yang biasa saya lakukan ketika Jenna masih new born. Tapi sekarang Jenna sudah 4,5 bulan dan sudah bisa tidur tanpa digendong-gendong lagi. Tidurnya pun durasinya lama kalau malam hari.

Jadi sekarang kalau Jenna udah keliatan mulai ngantuk (dan sudah kenyang), saya biasanya menidurkan Jenna di kasur dalam posisi tengkurap. Lalu saya pasangkan lagu anak-anak yang judulnya “Ba Ba Black Sheep” yang entah kenapa ampuh buat nidurin Jenna. Lalu sambil tiduran tengkurap, sambil ditepuk-tepuk pantat dan punggungnya.

Biasanya kalau emang udah ngantuk banget, Jenna bisa langsung merem klo pakai teknik itu. Tapi kalau masih ngantuk sedeng, kepalanya masih suka diangkat-angkat. Gak hanya itu, sekarang Jenna sudah bisa merangkak, tapi mundur :p Jadi suka mundur-mundur gitu dari posisinya sampai mentok ke pinggir kasur.

6a00d83451afd569e20168e7387542970c-800wi

Terkadang, Jenna kita tidurkan bareng sama papa mamanya di kasur besar. Kalau kamu pernah liat poseter posisi bayi tidur bareng orang tua di atas ini, maka itu yang terjadi juga dengan Jenna. Yang nomer dua itu yang paling sering terjadi :p Entah kenapa, Jenna hobi banget berputar 90 derajat dari posisi tidur awalnya sehingga posisinya melintang di kasur. Alhasil, papa mamanya harus mepet ke ujung kasur. Tidak jarang juga saya atau Dea jadi terbangun gara-gara didesel-desel sama Jenna :p hahaha itulah seninya tidur bareng bayi :p

Orang Tua Juga Belajar

Seiring tumbuh kembang Jenna, sebagai orang tua, saya melihat banyak sekali hal baru yang dipelajari oleh Jenna. Mulai dari bisa berinteraksi, bisa tersenyum, bisa menggenggam, bisa anteng di car seat, bisa tidur malam sendiri, dan lain-lain. Tapi ternyata proses mendidik anak ini juga mengharuskan orang tua untuk terus belajar dan mengerti anak.

Contoh simpelnya adalah kasus minum dari botol sendok (soft cup feeder). Cukup lama saya coba mengajarkan Jenna untuk bisa minum dari botol sendok. Awal-awal hanya masuk 20ml, rewel, dan sebagainya. Perlahan-lahan, bisa masuk 70-80ml sekali minum, tapi masih rewel. Asumsi saya yaudah emang Jenna bakal terus rewel klo pakai botol sendok, mungkin kalau pakai dot harusnya gak rewel. Berharap lambat laun Jenna bakal terbiasa pakai botol sendok gak rewel dan bisa masuk banyak.

baca juga : [Supercoolkids] Minum Pakai Soft Cup Feeder

Soalnya sedih juga kalau pas mamanya kerja, Jenna siang cuma minum sedikit. Alhasil berat badannya tidak begitu banyak naiknya. Kalau minum sedikit ini juga ngaruh ke jam tidur siang yang sebentar, suka males diajak main dan belajar (lemes kali ya gak kenyang), dan semakin malem semakin rewel (klo mamanya lagi pulang agak malem) karena emang seharian gak makan banyak.

Ternyata di sini saya juga harus belajar. Mungkin bukan Jennanya yang belum terbiasa, tapi metode yang saya gunakan untuk memberikan Jenna makan salah. Jennanya yang udah bisa, tapi sayanya yang kurang tepat cara menggunakan botol sendoknya. Alhasil saya coba cari cara lain dan akhirnya berhasil. Jika selama ini saya keluarkan susunya sedikit-sediki ke dalam ujung sendoknya, ternyata Jenna lebih suka kalau ujung sendoknya itu full, penuh. Terus dia langsung teguk segitu dan langsung pengen ujung sendoknya udah full lagi untuk dia teguk. Biasanya kalau ngasih minum perlu beberapa kali ronde istirahat dulu, memakan waktu setengah sampai satu jam, dan selalu nyisa minumnya. Dengan metode yang Jenna suka ini, sekali minum langsung banyak, cepet minumnya (gak sampai lima menit), dan gak ada sisa sama sekali :’) Terharu!

baca juga : [Supercoolkids] Milestone Dua Bulan

Ini baru dari satu case saja, tapi intisarinya adalah orang tua juga harus belajar. Kalau ada sesuatu dengan anak kita, mungkin saja cara kita yang salah dan kurang cocok dengan tipikal anak. Tugas orang tua lah untuk mencari tau metode terbaik untuk anaknya 🙂

*saya tampilkan juga vlog yang ada isinya momen ketika Jenna masih belajar pake botol sendok 🙂